Selamat Datang Dan Membaca Blog Ini

Jumat, 01 November 2013



Kisah  Perjalanan Dalam Mensosialisasi Beastudi Etos Di Daerah Kabupaten Simalungun
By Eko Sunantri
            Berawal dari sebuah penugasan yang sungguh luar biasa yang diberikan oleh manajemen daerah kepada para etoser yaitu mensosialisasikan Beastudi Etos di daerah kami masing-masing. Oleh karena itu, karena saya berasal dari Kabupaten Simalungun akhirnya saya pun mensosialisasikan di daerah saya, yaitu simalungun. Di daerah Simalungun terdapat 4 mahasiswa yang mendapatkan Beastudi Etos ini, yaitu yang terdiri dari 2 orang ikhwan stambuk 2011 (saya dan teman saya Asrul Wijaya Saragih) dan 2 orang akhwat stambuk 2012 (Rohmah Dearni Saragih dan Nina B. Manula). Oleh karena itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk membagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I mensosialisasikan di daerah Kabupaten Simalungun dan kelompok II mensosialisasikan di daerah Kota Madya Pematang Siantar. Dan akhirnya saya dan teman saya Asrul di kelompok I, yaitu mensosialisasikan di daerah Kabupaten Simalungun.
Awalnya kami berempat mensosialisasikan di daerah Kota Madya yaitu Pematang Siantar dalam hal ini kami mensosialisasikan di sekolah MAN Pematang Siantar. MAN Pematang Siantar adalah salah satu sekolah yang berbasis islami yang ada di Kota Madya Pematang Siantar. Kami berempat di sekolah tersebut bersabar dan mengikuti semua birokrasi yang telah ditentukan oleh pihak sekolah, kami menunggu dan menunggu hingga berjam-jam hanya untuk mensosialisasikan Beastudi Etos ini. Namun, kami tetap bersabar dan istiqomah dalam menunggunya. Dan akhirnya pada pukul 13.00 WIB kami diperbolehkan untuk mensosialisasikan ke seluruh kelas XII dengan mekanismenya yaitu ke kelas-kelas. Ketika kami masuk ternyata Alhamdulillah respon mereka sangat bagus, mereka banyak yang menanyakan mengenai bagaimana mekanisme pendaftarannya dan bukan itu saja yang mereka tanya, namun mereka juga menanyakan bagaimana pengalaman-pengalaman kuliah, kemudian saya pun meladeni dengan senang hati apa yang mereka tanyakan. Dan akhirnya, diantara kami terjadi interaksi yang sangat baik hingga sekarang kami tetap berinteraksi lewat handphone.
Keesokan harinya kami mensosialisasikan di wilayah Simalungun bawah dan kami memulainya dari Kecamatan Ujung Padang, karena sebelumnya saya pernah ke daerah Ujung Padang dan di daerah tersebut terdapat sekolah berbasis islami yang sangat memprihatinkan, nama sekolahnya yaitu MAN Ujung Padang. Sebelum saya menceritakan mengenai sosialisasinya, terlebih dahulu saya akan mendeskripsikan bagaimana keadaan sekolahnya. Sekolah ini berada di ujung Kabupaten Simalungun, sangking ujungnya jika ditempuh dari rumah saya ke daerah ini membutuhkan waktu sekitar ± 1,5 jam, jalan untuk menuju ke sekolah tersebut sangat menantang, karena banyak jalan yang rusak dan bergelombang, pokoknya sungguh memprihatikan. Yang lebih parahnya yaitu ketika kami sampai di sekolah tersebut, ternyata keadaan sekolahnya sungguh memprihatinkan. Luas area sekolah tersebut hanya berkisar kurang dari 1/2 hektar. Jika di tinjau dari ruangannya sangat tidak memadai dan tidak terfasilitasi seperti di sekolah-sekolah yang ada di kota, jangannka di kota…fasilitas seperti yang ada di kota madya pun tidak terpenuhi. Sekolah tersebut belum memiliki ruang Lab. IPA, Lab. Komputer, jangankan Lab. IPA atau Lab. Computer, ruang AULA  pun mereka belum punya. Di tambah lagi siswanya yang belum mengetahui mengenai SNMPTN 2013 yang telah di depan mata mereka. Di sekolah tersebut kami banyak memberikan motivasi-motivasi agar mereka optimis dalam meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Dan tidak sedikit dari mereka yang merespon, banyak pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan, sampai-sampai waktupun habis dengan cepatnya. Karena kami tidak memiliki banyak waktu, oleh karena itu saya memberikan No. HP agar jika ada yang dipertanyakan lagi dapat menghubungi saya.
Selesai di sekolah MAN Ujung Padang, kami makan siang. Pada saat makan siang, kami bertemu dengan 2 murid dari SMA N 1 Ujung Padang dan langsung saja saya menghampiri mereka untuk memberikan brosur Beastudi etos kepada mereka, agar mereka menginformasikan kepada pihak sekolah dan teman-teman mereka. Mereka meminta saya untuk ke sekolah mereka, namun karena kami tidak memiliki banyak waktu, kami hanya memberikan brosurnya saja. Setalah itu saya melanjutkan makan, setelah selesai kami beranjak dari warung tempat kami makan menuju MAS Nurul Hidayah. Sesampainya disana kami di ladeni dengan begitu ramah oleh Kepala Sekolah dan guru-guru yang berada di ruang guru. Tidak banyak bercerita dengan kepala sekolah, kami pun dipersilahkan untuk mensosialisasikan ke kelas-kelas. di ruang kelas kami banyak memberikan motivasi kedapa mereka, karena ternyata sekolah tersebut belum terdaftar ke pusat dalam SNMPTN Undangan, sungguh memprihatinkan bukan….dari situlah saya tergugah untuk memberikan motivasi kepada mereka, agar mereka semangat untuk kuliah. Saya menceritakan pengalaman-pengalaman pada saat masuk kuliah dan saya menggambarkan mengenai kuliah, serta mengatakan bahwa masuk ke PTN itu tidak susah. Dan akhirnya kami disitu banyak tanya jawab, khususnya mengenai beastudi etos yang kami sosialisasikan.
            Setelah selesai mensosialisasikan ke MAS Nurul Hidayah, kami menuju rumah saudaranya Asrul Wijaya Saragih yang saat ini sekolah di SMA N1 Bosar Maligas masih di daerah Simalungun, karena waktu jam sekolah telah habis, jadi kami hanya memberikan brosur saja kepadanya agar dia menginformasikan kepada pihak sekolah dan teman-temannya. Tak lama kemudian kami pun pulang kerumah kami masing-masing, dan melanjutkan sosialisasi esok hari.
            Di hari ke-3, yaitu hari terakhir kami sosialisasi Beastudi Etos, sebab brosurnya sudah habis. Kami mensosialisasikan di daerah tempat tinggal Asrul. Karena disitu ada sekolah islam yang tamatannya baru tahun ini, sebab sekolahnya baru berjalan 3 tahun. Oleh karena itu, pantas jika mereka mandapatkan informasi Beastudi Etos ini. Di ruang kelas kami mensosialisaikan dengan sejelas-jelasnya, dan memberikan banyak kesempatan kepada siswa/i untuk bertanya mengenai hal apapun tentang kuliah dan tentang Beastudi Etos. Di samping itu saya pun memberikan cerita nyata dari diri saya pada saat hendak masuk kuliah. Alhamdulillah banyak di antara mereka yang semangat ketika saya menceritakannya. Tidak sekedar itu saja merekapun sangat antusias untuk bertanya dan optimisme mereka untuk kuliah sangat tinggi, hal tersebutlah yang membuat saya salut kepada mereka.
            Setelah selesai, kami pun menuju sekolah MAS Al-Khoiriyah. Di sekolah inilah yang membuat saya pusing melihat siswanya, mereka sangat tidak ada fikirannya untuk melanjutkan kuliah. Difikiran mereka hanya bekerja dan bekerja..Namun, walaupun demikian saya berusaha untuk memotivasi mereka agar semangat untuk kuliah. Tetapi pada akhirnya hanya sedikit yang termotivasi. Saya berfikir, tak apalah yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin..
            Selesai dari MAS Al-Khoiriyah kami lanjut ke MAN Pemataang Bandar, tempat saya belajar waktu SMA dulu. Sekolah ini adalah sekolah terakhir yang kami sosialisasikan. Di MAN saya banyak bercerita kepada guru-guru, saya menyalami semua guru yang datang waktu itu. Dalam fikiran saya, sekalian bersilahturahim lah,….di moment itu saya banyak menghabiskan waktu. Hingga hanya tersisa waktu sekitar 1 jam 20 menit, waktu tersebut kami gunakan untuk mensosialisasikan Beastudi Etos ke kelas-kelas. karena kami tidak memiliki banyak waktu, kami pun membatasi durasi di setiap ruangan. Namun, walaupun begitu di antara mereka banyak yang merespon apa yang kami sampaikan.
            Dari sosialisasi tersebut, kami banyak pengalaman-pengalaman yang sungguh berharga kalau menurut saya. Dari sekolah-sekolah yang telah saya sosialisasi, ternyata tanggapan mereka sama semua, mereka berpendapat kalau masuk kuliah di PTN itu sangat sulit bagi mereka, apalagi mereka bisa dikatakan dari kalangan menengah ke bawah. Yang mereka fikirkan hanya masalah financial dan saingan. Mereka tidak memiliki optimisme tinggi untuk masuk kuliah ke PTN, apalagi USU. Itulah yang ada dibenak mereka, namun saya berusaha menyemangati mereka dan memberikan kisah-kisah nyata dari seorang yang miskin dan sekarang menjadi orang yang hebat, missal saja Danang, Chairul Tanjung dll. Kisah hidup beberapa orang-orang hebat kami ceritakan kepada mereka. Dan saya berharap mereka semua tergugah hatinya untuk melanjutkan ke janjang yang lebih tinggi. Amiin….
Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum, Melainkan Kaum Tersebut Yang Mengubahnya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar