Kisah Perjalanan Dalam Mensosialisasi Beastudi Etos
Di Daerah Kabupaten Simalungun
By Eko Sunantri
Berawal dari sebuah penugasan yang sungguh luar biasa
yang diberikan oleh manajemen daerah kepada para etoser yaitu mensosialisasikan
Beastudi Etos di daerah kami masing-masing. Oleh karena itu, karena saya
berasal dari Kabupaten Simalungun akhirnya saya pun mensosialisasikan di daerah
saya, yaitu simalungun. Di daerah Simalungun terdapat 4 mahasiswa yang
mendapatkan Beastudi Etos ini, yaitu yang terdiri dari 2 orang ikhwan stambuk
2011 (saya dan teman saya Asrul Wijaya Saragih) dan 2 orang akhwat stambuk 2012
(Rohmah Dearni Saragih dan Nina B. Manula). Oleh karena itu kami bermusyawarah
dan mengambil keputusan untuk membagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I
mensosialisasikan di daerah Kabupaten Simalungun dan kelompok II mensosialisasikan
di daerah Kota Madya Pematang Siantar. Dan akhirnya saya dan teman saya Asrul
di kelompok I, yaitu mensosialisasikan di daerah Kabupaten Simalungun.
Awalnya
kami berempat mensosialisasikan di daerah Kota Madya yaitu Pematang Siantar dalam
hal ini kami mensosialisasikan di sekolah MAN Pematang Siantar. MAN Pematang
Siantar adalah salah satu sekolah yang berbasis islami yang ada di Kota Madya
Pematang Siantar. Kami berempat di sekolah tersebut bersabar dan mengikuti
semua birokrasi yang telah ditentukan oleh pihak sekolah, kami menunggu dan
menunggu hingga berjam-jam hanya untuk mensosialisasikan Beastudi Etos ini.
Namun, kami tetap bersabar dan istiqomah dalam menunggunya. Dan akhirnya pada
pukul 13.00 WIB kami diperbolehkan untuk mensosialisasikan ke seluruh kelas XII
dengan mekanismenya yaitu ke kelas-kelas. Ketika kami masuk ternyata
Alhamdulillah respon mereka sangat bagus, mereka banyak yang menanyakan
mengenai bagaimana mekanisme pendaftarannya dan bukan itu saja yang mereka tanya,
namun mereka juga menanyakan bagaimana pengalaman-pengalaman kuliah, kemudian
saya pun meladeni dengan senang hati apa yang mereka tanyakan. Dan akhirnya,
diantara kami terjadi interaksi yang sangat baik hingga sekarang kami tetap
berinteraksi lewat handphone.
Keesokan
harinya kami mensosialisasikan di wilayah Simalungun bawah dan kami memulainya
dari Kecamatan Ujung Padang, karena sebelumnya saya pernah ke daerah Ujung Padang
dan di daerah tersebut terdapat sekolah berbasis islami yang sangat
memprihatinkan, nama sekolahnya yaitu MAN Ujung Padang. Sebelum saya
menceritakan mengenai sosialisasinya, terlebih dahulu saya akan mendeskripsikan
bagaimana keadaan sekolahnya. Sekolah ini berada di ujung Kabupaten Simalungun,
sangking ujungnya jika ditempuh dari rumah saya ke daerah ini membutuhkan waktu
sekitar ± 1,5 jam, jalan untuk menuju ke sekolah tersebut sangat menantang,
karena banyak jalan yang rusak dan bergelombang, pokoknya sungguh
memprihatikan. Yang lebih parahnya yaitu ketika kami sampai di sekolah
tersebut, ternyata keadaan sekolahnya sungguh memprihatinkan. Luas area sekolah
tersebut hanya berkisar kurang dari 1/2 hektar. Jika di tinjau dari ruangannya
sangat tidak memadai dan tidak terfasilitasi seperti di sekolah-sekolah yang
ada di kota, jangannka di kota…fasilitas seperti yang ada di kota madya pun
tidak terpenuhi. Sekolah tersebut belum memiliki ruang Lab. IPA, Lab. Komputer,
jangankan Lab. IPA atau Lab. Computer, ruang AULA pun mereka belum punya. Di tambah lagi
siswanya yang belum mengetahui mengenai SNMPTN 2013 yang telah di depan mata
mereka. Di sekolah tersebut kami banyak memberikan motivasi-motivasi agar
mereka optimis dalam meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan
tinggi. Dan tidak sedikit dari mereka yang merespon, banyak
pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan, sampai-sampai waktupun habis
dengan cepatnya. Karena kami tidak memiliki banyak waktu, oleh karena itu saya
memberikan No. HP agar jika ada yang dipertanyakan lagi dapat menghubungi saya.
Selesai
di sekolah MAN Ujung Padang, kami makan siang. Pada saat makan siang, kami
bertemu dengan 2 murid dari SMA N 1 Ujung Padang dan langsung saja saya
menghampiri mereka untuk memberikan brosur Beastudi etos kepada mereka, agar
mereka menginformasikan kepada pihak sekolah dan teman-teman mereka. Mereka
meminta saya untuk ke sekolah mereka, namun karena kami tidak memiliki banyak
waktu, kami hanya memberikan brosurnya saja. Setalah itu saya melanjutkan
makan, setelah selesai kami beranjak dari warung tempat kami makan menuju MAS
Nurul Hidayah. Sesampainya disana kami di ladeni dengan begitu ramah oleh Kepala
Sekolah dan guru-guru yang berada di ruang guru. Tidak banyak bercerita dengan
kepala sekolah, kami pun dipersilahkan untuk mensosialisasikan ke kelas-kelas.
di ruang kelas kami banyak memberikan motivasi kedapa mereka, karena ternyata
sekolah tersebut belum terdaftar ke pusat dalam SNMPTN Undangan, sungguh
memprihatinkan bukan….dari situlah saya tergugah untuk memberikan motivasi
kepada mereka, agar mereka semangat untuk kuliah. Saya menceritakan
pengalaman-pengalaman pada saat masuk kuliah dan saya menggambarkan mengenai
kuliah, serta mengatakan bahwa masuk ke PTN itu tidak susah. Dan akhirnya kami
disitu banyak tanya jawab, khususnya mengenai beastudi etos yang kami
sosialisasikan.
Setelah selesai mensosialisasikan ke MAS Nurul Hidayah,
kami menuju rumah saudaranya Asrul Wijaya Saragih yang saat ini sekolah di SMA
N1 Bosar Maligas masih di daerah Simalungun, karena waktu jam sekolah telah
habis, jadi kami hanya memberikan brosur saja kepadanya agar dia
menginformasikan kepada pihak sekolah dan teman-temannya. Tak lama kemudian
kami pun pulang kerumah kami masing-masing, dan melanjutkan sosialisasi esok
hari.
Di hari ke-3, yaitu hari terakhir kami sosialisasi
Beastudi Etos, sebab brosurnya sudah habis. Kami mensosialisasikan di daerah
tempat tinggal Asrul. Karena disitu ada sekolah islam yang tamatannya baru
tahun ini, sebab sekolahnya baru berjalan 3 tahun. Oleh karena itu, pantas jika
mereka mandapatkan informasi Beastudi Etos ini. Di ruang kelas kami
mensosialisaikan dengan sejelas-jelasnya, dan memberikan banyak kesempatan
kepada siswa/i untuk bertanya mengenai hal apapun tentang kuliah dan tentang Beastudi
Etos. Di samping itu saya pun memberikan cerita nyata dari diri saya pada saat
hendak masuk kuliah. Alhamdulillah banyak di antara mereka yang semangat ketika
saya menceritakannya. Tidak sekedar itu saja merekapun sangat antusias untuk
bertanya dan optimisme mereka untuk kuliah sangat tinggi, hal tersebutlah yang
membuat saya salut kepada mereka.
Setelah selesai, kami pun menuju sekolah MAS
Al-Khoiriyah. Di sekolah inilah yang membuat saya pusing melihat siswanya,
mereka sangat tidak ada fikirannya untuk melanjutkan kuliah. Difikiran mereka
hanya bekerja dan bekerja..Namun, walaupun demikian saya berusaha untuk
memotivasi mereka agar semangat untuk kuliah. Tetapi pada akhirnya hanya
sedikit yang termotivasi. Saya berfikir, tak apalah yang penting saya sudah
berusaha semaksimal mungkin..
Selesai dari MAS Al-Khoiriyah kami lanjut ke MAN
Pemataang Bandar, tempat saya belajar waktu SMA dulu. Sekolah ini adalah
sekolah terakhir yang kami sosialisasikan. Di MAN saya banyak bercerita kepada
guru-guru, saya menyalami semua guru yang datang waktu itu. Dalam fikiran saya,
sekalian bersilahturahim lah,….di moment itu saya banyak menghabiskan waktu.
Hingga hanya tersisa waktu sekitar 1 jam 20 menit, waktu tersebut kami gunakan
untuk mensosialisasikan Beastudi Etos ke kelas-kelas. karena kami tidak
memiliki banyak waktu, kami pun membatasi durasi di setiap ruangan. Namun,
walaupun begitu di antara mereka banyak yang merespon apa yang kami sampaikan.
Dari sosialisasi tersebut, kami banyak pengalaman-pengalaman
yang sungguh berharga kalau menurut saya. Dari sekolah-sekolah yang telah saya
sosialisasi, ternyata tanggapan mereka sama semua, mereka berpendapat kalau
masuk kuliah di PTN itu sangat sulit bagi mereka, apalagi mereka bisa dikatakan
dari kalangan menengah ke bawah. Yang mereka fikirkan hanya masalah financial
dan saingan. Mereka tidak memiliki optimisme tinggi untuk masuk kuliah ke PTN, apalagi
USU. Itulah yang ada dibenak mereka, namun saya berusaha menyemangati mereka
dan memberikan kisah-kisah nyata dari seorang yang miskin dan sekarang menjadi
orang yang hebat, missal saja Danang, Chairul Tanjung dll. Kisah hidup beberapa
orang-orang hebat kami ceritakan kepada mereka. Dan saya berharap mereka semua
tergugah hatinya untuk melanjutkan ke janjang yang lebih tinggi. Amiin….
“Sesungguhnya
Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum, Melainkan Kaum Tersebut Yang
Mengubahnya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar