Selamat Datang Dan Membaca Blog Ini

Jumat, 01 November 2013



Kisah  Perjalanan Dalam Mensosialisasi Beastudi Etos Di Daerah Kabupaten Simalungun
By Eko Sunantri
            Berawal dari sebuah penugasan yang sungguh luar biasa yang diberikan oleh manajemen daerah kepada para etoser yaitu mensosialisasikan Beastudi Etos di daerah kami masing-masing. Oleh karena itu, karena saya berasal dari Kabupaten Simalungun akhirnya saya pun mensosialisasikan di daerah saya, yaitu simalungun. Di daerah Simalungun terdapat 4 mahasiswa yang mendapatkan Beastudi Etos ini, yaitu yang terdiri dari 2 orang ikhwan stambuk 2011 (saya dan teman saya Asrul Wijaya Saragih) dan 2 orang akhwat stambuk 2012 (Rohmah Dearni Saragih dan Nina B. Manula). Oleh karena itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk membagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I mensosialisasikan di daerah Kabupaten Simalungun dan kelompok II mensosialisasikan di daerah Kota Madya Pematang Siantar. Dan akhirnya saya dan teman saya Asrul di kelompok I, yaitu mensosialisasikan di daerah Kabupaten Simalungun.
Awalnya kami berempat mensosialisasikan di daerah Kota Madya yaitu Pematang Siantar dalam hal ini kami mensosialisasikan di sekolah MAN Pematang Siantar. MAN Pematang Siantar adalah salah satu sekolah yang berbasis islami yang ada di Kota Madya Pematang Siantar. Kami berempat di sekolah tersebut bersabar dan mengikuti semua birokrasi yang telah ditentukan oleh pihak sekolah, kami menunggu dan menunggu hingga berjam-jam hanya untuk mensosialisasikan Beastudi Etos ini. Namun, kami tetap bersabar dan istiqomah dalam menunggunya. Dan akhirnya pada pukul 13.00 WIB kami diperbolehkan untuk mensosialisasikan ke seluruh kelas XII dengan mekanismenya yaitu ke kelas-kelas. Ketika kami masuk ternyata Alhamdulillah respon mereka sangat bagus, mereka banyak yang menanyakan mengenai bagaimana mekanisme pendaftarannya dan bukan itu saja yang mereka tanya, namun mereka juga menanyakan bagaimana pengalaman-pengalaman kuliah, kemudian saya pun meladeni dengan senang hati apa yang mereka tanyakan. Dan akhirnya, diantara kami terjadi interaksi yang sangat baik hingga sekarang kami tetap berinteraksi lewat handphone.
Keesokan harinya kami mensosialisasikan di wilayah Simalungun bawah dan kami memulainya dari Kecamatan Ujung Padang, karena sebelumnya saya pernah ke daerah Ujung Padang dan di daerah tersebut terdapat sekolah berbasis islami yang sangat memprihatinkan, nama sekolahnya yaitu MAN Ujung Padang. Sebelum saya menceritakan mengenai sosialisasinya, terlebih dahulu saya akan mendeskripsikan bagaimana keadaan sekolahnya. Sekolah ini berada di ujung Kabupaten Simalungun, sangking ujungnya jika ditempuh dari rumah saya ke daerah ini membutuhkan waktu sekitar ± 1,5 jam, jalan untuk menuju ke sekolah tersebut sangat menantang, karena banyak jalan yang rusak dan bergelombang, pokoknya sungguh memprihatikan. Yang lebih parahnya yaitu ketika kami sampai di sekolah tersebut, ternyata keadaan sekolahnya sungguh memprihatinkan. Luas area sekolah tersebut hanya berkisar kurang dari 1/2 hektar. Jika di tinjau dari ruangannya sangat tidak memadai dan tidak terfasilitasi seperti di sekolah-sekolah yang ada di kota, jangannka di kota…fasilitas seperti yang ada di kota madya pun tidak terpenuhi. Sekolah tersebut belum memiliki ruang Lab. IPA, Lab. Komputer, jangankan Lab. IPA atau Lab. Computer, ruang AULA  pun mereka belum punya. Di tambah lagi siswanya yang belum mengetahui mengenai SNMPTN 2013 yang telah di depan mata mereka. Di sekolah tersebut kami banyak memberikan motivasi-motivasi agar mereka optimis dalam meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Dan tidak sedikit dari mereka yang merespon, banyak pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan, sampai-sampai waktupun habis dengan cepatnya. Karena kami tidak memiliki banyak waktu, oleh karena itu saya memberikan No. HP agar jika ada yang dipertanyakan lagi dapat menghubungi saya.
Selesai di sekolah MAN Ujung Padang, kami makan siang. Pada saat makan siang, kami bertemu dengan 2 murid dari SMA N 1 Ujung Padang dan langsung saja saya menghampiri mereka untuk memberikan brosur Beastudi etos kepada mereka, agar mereka menginformasikan kepada pihak sekolah dan teman-teman mereka. Mereka meminta saya untuk ke sekolah mereka, namun karena kami tidak memiliki banyak waktu, kami hanya memberikan brosurnya saja. Setalah itu saya melanjutkan makan, setelah selesai kami beranjak dari warung tempat kami makan menuju MAS Nurul Hidayah. Sesampainya disana kami di ladeni dengan begitu ramah oleh Kepala Sekolah dan guru-guru yang berada di ruang guru. Tidak banyak bercerita dengan kepala sekolah, kami pun dipersilahkan untuk mensosialisasikan ke kelas-kelas. di ruang kelas kami banyak memberikan motivasi kedapa mereka, karena ternyata sekolah tersebut belum terdaftar ke pusat dalam SNMPTN Undangan, sungguh memprihatinkan bukan….dari situlah saya tergugah untuk memberikan motivasi kepada mereka, agar mereka semangat untuk kuliah. Saya menceritakan pengalaman-pengalaman pada saat masuk kuliah dan saya menggambarkan mengenai kuliah, serta mengatakan bahwa masuk ke PTN itu tidak susah. Dan akhirnya kami disitu banyak tanya jawab, khususnya mengenai beastudi etos yang kami sosialisasikan.
            Setelah selesai mensosialisasikan ke MAS Nurul Hidayah, kami menuju rumah saudaranya Asrul Wijaya Saragih yang saat ini sekolah di SMA N1 Bosar Maligas masih di daerah Simalungun, karena waktu jam sekolah telah habis, jadi kami hanya memberikan brosur saja kepadanya agar dia menginformasikan kepada pihak sekolah dan teman-temannya. Tak lama kemudian kami pun pulang kerumah kami masing-masing, dan melanjutkan sosialisasi esok hari.
            Di hari ke-3, yaitu hari terakhir kami sosialisasi Beastudi Etos, sebab brosurnya sudah habis. Kami mensosialisasikan di daerah tempat tinggal Asrul. Karena disitu ada sekolah islam yang tamatannya baru tahun ini, sebab sekolahnya baru berjalan 3 tahun. Oleh karena itu, pantas jika mereka mandapatkan informasi Beastudi Etos ini. Di ruang kelas kami mensosialisaikan dengan sejelas-jelasnya, dan memberikan banyak kesempatan kepada siswa/i untuk bertanya mengenai hal apapun tentang kuliah dan tentang Beastudi Etos. Di samping itu saya pun memberikan cerita nyata dari diri saya pada saat hendak masuk kuliah. Alhamdulillah banyak di antara mereka yang semangat ketika saya menceritakannya. Tidak sekedar itu saja merekapun sangat antusias untuk bertanya dan optimisme mereka untuk kuliah sangat tinggi, hal tersebutlah yang membuat saya salut kepada mereka.
            Setelah selesai, kami pun menuju sekolah MAS Al-Khoiriyah. Di sekolah inilah yang membuat saya pusing melihat siswanya, mereka sangat tidak ada fikirannya untuk melanjutkan kuliah. Difikiran mereka hanya bekerja dan bekerja..Namun, walaupun demikian saya berusaha untuk memotivasi mereka agar semangat untuk kuliah. Tetapi pada akhirnya hanya sedikit yang termotivasi. Saya berfikir, tak apalah yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin..
            Selesai dari MAS Al-Khoiriyah kami lanjut ke MAN Pemataang Bandar, tempat saya belajar waktu SMA dulu. Sekolah ini adalah sekolah terakhir yang kami sosialisasikan. Di MAN saya banyak bercerita kepada guru-guru, saya menyalami semua guru yang datang waktu itu. Dalam fikiran saya, sekalian bersilahturahim lah,….di moment itu saya banyak menghabiskan waktu. Hingga hanya tersisa waktu sekitar 1 jam 20 menit, waktu tersebut kami gunakan untuk mensosialisasikan Beastudi Etos ke kelas-kelas. karena kami tidak memiliki banyak waktu, kami pun membatasi durasi di setiap ruangan. Namun, walaupun begitu di antara mereka banyak yang merespon apa yang kami sampaikan.
            Dari sosialisasi tersebut, kami banyak pengalaman-pengalaman yang sungguh berharga kalau menurut saya. Dari sekolah-sekolah yang telah saya sosialisasi, ternyata tanggapan mereka sama semua, mereka berpendapat kalau masuk kuliah di PTN itu sangat sulit bagi mereka, apalagi mereka bisa dikatakan dari kalangan menengah ke bawah. Yang mereka fikirkan hanya masalah financial dan saingan. Mereka tidak memiliki optimisme tinggi untuk masuk kuliah ke PTN, apalagi USU. Itulah yang ada dibenak mereka, namun saya berusaha menyemangati mereka dan memberikan kisah-kisah nyata dari seorang yang miskin dan sekarang menjadi orang yang hebat, missal saja Danang, Chairul Tanjung dll. Kisah hidup beberapa orang-orang hebat kami ceritakan kepada mereka. Dan saya berharap mereka semua tergugah hatinya untuk melanjutkan ke janjang yang lebih tinggi. Amiin….
Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum, Melainkan Kaum Tersebut Yang Mengubahnya”.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Mulai abad pertengahan merupakan abad gemilang bagi umat Islam. Abad inilah daerah-daerah Islam meluas di barat melalui Afrika Utara sampai Spanyol, di Timur Melalui Pesia sampai India.
            Daerah-daerah ini kepada kekuasaan kholifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damaskus, dan terakhir di Bagdad. Dabad ini lahir para pemikir dan ulama besar seperti ;Maliki, Syafi’I, Hanafi, dan Hambali.
            Dengan lahirnya pemikiran para ulama besar itu, maka ilmu pengetahuan lahir dan berkembang dengan pesat sampai ke puncaknya, baik dalam bidang agama, nono agama maupun dalam bidang kebudayaan lainnya.
            Faktor Pendorong Gerakan Islam Modern
a.       Kepercayaan terhadap Barat secara keseluruhan yang dialami oleh generasi baru muslim.
b.      Gagalnya system social yang bertumpu pada kapitalisme dan sosialisme
c.       Gaya hidup elit sekuler di negara-negara Islam.
d.      Hasrat untuk memperoleh kekuasaan diantara segmen kelas menengah yang semakin berkembang yang tidak dapat diakomodasi secara politik.
e.       Ketahanan ekonomi negara-negara Islam tertentu akibat melonjaknya harga minyak.

B.     Rumusan Masalah
            Dalam makalah ini saya akan mencoba menjelaskan salah satu tokoh Islam Kontemporer yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Agama Islam di masanya, beliau adalah Muhammad Kamaluddin as-Sananiri bin Muhammad ‘Ali as-Sananiri.

BAB II
ISI

1.      Latar Belakang Beliau
Description: kamal.jpg
    Muhammad Kamaluddin bin Muhammad ‘Ali as-Sananiri telah dilahirkan di Kairo pada 28 Jamadil Awwal 1336 H bersamaan 11 Maret 1918. Beliau membesar dalam keluarga yang senang, Beliau mendapat pendidikan awal di sekolah awam sehingga memperolehi sijil rendah dan menengah.Beliau tidak menyambung pelajaran ke pengajian tinggi di universitas sebaliknya memilih bekerja di sektor kerajaan.
Beliau telah menyertai kementerian kesehatan (unit membasmi malaria) pada 1353 H atau 1934 M. Setelah 4 tahun bekerja (1938 M), berhenti dan ingin ke Amerika Serikat untuk belajar di jurusan farmasi. Beliau berencana bekerja di farmasi milik bapaknya sekembalinya dari sana, tetapi beliau telah membatalkan keinginannya setekat dinasihati oleh seorang ulama agar tidak ke Amerika Serikat.
2.      Keterlibatan Dalam Dakwah
            Ketika zaman beliau dakwah Ikhwanul Muslimin menerima sambutan ramai. Beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada 1360 H atau 1941 M dan telah berjuang dengan dedikasi, ikhlas dan sabar. Beliau juga telah mendapat tarbiah dari As-Syahid Imam Hasan Al-Banna dan Sering mengulang-ulang kata-kata As-Syahid :
“Ketidaktahuan rakyat pada hakikat Islam akan menjadi kendala bagi kalian. Ulama resmi yang menjilat pada penguasa akan memusuhi kalian. Setiap pemerintah berusaha membatasi aktivitas kalian dan memasang gangguan di jalan yang kalian tempuh. Mereka akan meminta bantuan dengan menjilat orang-orang yang berjiwa lemah dan berhati sakit. Sebaliknya, akan berlaku kasar dan beringas kepada kalian, karena itu, kalian akan dipenjara, disiksa, diusir, rumah-rumah kalian digeledah, harta kalian dirampas, dan tuduhan keji dilontarkan pada kalian, dengan harapan wibawa kalian hilang. Mungkin, ujian seperti ini berlangsung lama. Sadarilah, saat itulah kalian baru mulai menapaki jalan yang telah ditempuh para mujahid …”
            Semasa bersama ikhwan beliau telah diserahkan untuk melaksanakan berbagai tugas dakwah dan organisasi. Namun kerja dakwahnya tidak menyebabkan beliau mengabaikan tanggung jawab keluarga. Bapaknya meninggal dunia meninggalkan 3 saudara lelaki dan 3 saudara wanita. Beliau mengambil tanggung jawab bapaknya untuk memelihara keluarganya walaupun beliau bukan anak yang sulung. Kamaludin juga turut memperjuangkan Mesir, Palestina, isu Arab dan Islam. Aktivitas dan tugas yang banyak telah menyebabkan beliau tidak berfikir untuk membeli rumah akibatnya senantiasa menjadi musafir dan bergerak. Apabila ingin beristirahat, beliau pergi ke rumah kakaknya untuk beristirahat dan makan sebentar.
3.      Tragedi 1954 M / 1374 H
      Dasar pemikiran kerajaan yang diktator dan enggan melaksana syariah menyebabkan terjadinya pertempuran dengan Ikhwanul Muslimin. Akibat pertempuran itu kerajaan telah mengumumkan pembubaran Ikhwanul Muslimin dan menangkap seluruh anggotanya. Tindakan ini menyebabkan demontrasi besar-besaran dan Kamalaluddin adalah salah seorang koordinator dalam demonstrasi ini. Demontrasi ini memaksa kerajaan membebaskan tahanan dan menjanjikan pemulihan pemerintahan.
            Kerajaan kemudian mengatur rancangan membasmi Ikhwanul Muslimin dengan mengadakan peristiwa Mansyiyyah. Anggota Ikhwan Musliminul ditangkap awalnya termasuk Kamaluddin pada Oktober 1954 M. Beliau telah dihukum penjara selama 20 tahun sehingga keluar pada 1394 H atau Januari 1973M.
4.      Kehidupan Dalam Penjara
            Semasa proses pembicaraan mahkamah, beliau menerima siksaan yang dahsyat dalam tahanan sehingga semasa awal perbicaraan, ibunya sendiri tidak mengenalinya. Badannya kurus, rahangnya patah, percakapannya berubah. Telinga kirinya pula tuli. Siksaan dahsyat yang diterimanya menyebabkan adik iparnya (dari isteri pertama) yang ditahan bersamanya hilang akal dan dimasukkan rumah sakit jiwa.
            Semasa di penjara beliau hanya memakai baju yang kasar dan tidak memakai baju dalam yang dapat dibeli di penjara. Beliau tidak menerima apapun juga yang dianggap suatu nikmat di dalam penjara kepada tahanan untuk membujuk mereka atau agar dapat disekat untuk menakutkan mereka. Beliau ingin jiwanya bebas dari segala ikatan dunia, Beliau telah mengisi jiwanya dengan zuhud dan amal soleh, melakukan qiamullail dan berpuasa di siang hari.
5.      Bujukan Keluarga
      Dalam tahanan, petugas penjara menekan isteri pertama dan ibunya untuk membujuk Beliau agar menulis surat yang ditujukan kepada Abdul Nasir. Dengan bercurahkan  air mata ibunya yang berumur 70-an membujuknya Beliau menulis surat permohonan. Namun dia berkata :
 “Bagaimana keadaan saya ketika berdiri di hadapan Allah jika saya mengutus surat ini kemudian saya mati. Adakah kamu rela wahai ibu, saya mati dalam keadaan syirik?”
            Kamaluddin memberi pilihan kepada isterinya untuk tetap menjadi isterinya atau untuk dicerai dan isterinya memilih untuk tetap menjadi isteri. Namun, beliau terpaksa mencerai isterinya itu setelah keluarga isterinya mendesak hasil tekanan dari petugas pemerintah.
6.      Perkawinan Dalam Penjara
Setelah lima tahun di dalam penjara, Kamaluddin dimasukkan ke dalam rumah sakit yang ada di penjara. Beliau bertemu Syeikh Qutb yang di rawat di rumah sakit tersebut dan meminang Aminah dari Syeikh Qutb. Aminah menyetujui lamaran tersebut sekalipun waktu untuk menikah mungkin sampai 15 hingga 20 tahun kemudian. Beliau melakukan akad nikah dengan Aminah Qutb di dalam penjara. Karena kasihan terhadap isterinya, Kamaluddin menanyakan kepada isterinya mau meneruskan tali perkawinan atau tidak.
            Beliau tidak mendapat jawaban, sehingga datang surat dari isterinya: “Saya memilih harapan yang saya tunggu-tunggu; jalan jihad dan syurga, keteguhan dan pengorbanan, tegar dengan janji yang kita ikrarkan dengan aqidah yang kukuh dan keyakinan tanpa ragu-ragu atau menyesal”.
            Mereka disatukan hanya setelah keluar dari penjara dan tidak diperbolehkan untuk bertemu.
7.      Setelah Dibebaskan
            Setelah dibebaskan, beliau kembali aktif dalam dakwahnya. Penderitaan panjang yang dialaminya tidak menyebabkannya beistirahat dan luntur. Bahkan beliau bagaikan permata yang mengkilat. Bertambah memancar kilauannya.. Peranannya yang paling menonjol ialah dalam jihad Afghanistan.
            Beliau menghabiskan waktu dan tenaganya membantu mujahidin Afghanistan, mendamaikan dan menyelesaikan perselisihan antara pimpinan mereka. Mujahidin Afghanistan mengetahui keikhlasan dan keprihatinannya terhadap barisan peperangan.
            Mereka mematuhi dan menghormatinya. Mereka hampir-hampir tidak membantahnya semasa beliau bersama mereka.
8.      Penangkapan dan Pembunuhan
            Sekembali dari Afghanistan, beliau ditangkap bersama anggota gerakan Islam dan pimpinan nasionalis Mesir yang lain. Pada Zulkaedah 1401 H atau September 1981, Presiden Anwar Sadat telah mengeluarkan “arahan berjaga-jaga” ke atas para pembangkangnya. Mereka di sebarkan ke pusat-pusat tahanan selepas pembangkangan hebat terhadap perdamaian dengan Yahudi.
            Kamaluddin disiksa terus-menuerus untuk mendapatkan informasi tentang organisasi antara bangsa Ikhwan Muslimin dan peranannya di Afghanistan dalam umur melebihi 60 tahun. Akibat dari siksaan tersebut beliau menghembuskan nafas terakhir pada 10 Muharram 1402 H atau 8 November 1981M. Petugas penjara memaparkan bahawa beliau bunuh diri. Tetapi tiada yang dapat menerima tuduhan tersebut walau kanak-kanak kecil. Bagaiman lelaki yang telah tetap teguh selama 20 tahun bersama keimanan dan perjuangannya, tiba-tiba hilang pertimbangan hanya kerana ditangkap seketika sehingga dapat bertindak sedemikian rupa.
Wallahua’lam
            Semoga Allah merahmati roh al-akh as-syahid Muhammad Kamaluddin As-Sananiri dan mengumpulkan kita bersama nabiyyin wa siddiqiin wa syuhada’ wa solihin…


BAB III
KESIMPULAN

            Dari makalah di atas dapat disimpulkan bahwa Muhammad Kamaludin As-Sananiri adalah sosok tokoh yang memiliki keteguhan hati, kesabaran dan keistiqomahan dalam mengarungi jalan dakwah ini. Walaupun beliau di penjara selama 20 tahun lamanya, diusir, rumah-rumahnya digeledah, hartanya dirampas, dan tuduhan keji dilontarkan dengan harapan beliau dapat keluar dari wajihah Ikhwanul Muslimin dan mengatakan siapa-siapa saja pembesar dari Ikhwanul Muslimin, namun beliau tetap tidak mau mengatakannya, tetap bergabung dalam wajihah Ikhwanul Muslimin, bahkan dengan hal tersebut menambah ghiroh beliau dalam menyiarkan dakwah.
            Hingga pada suatu ketika beliau di penjarakan kembali (di tawan) oleh Presiden Sadat bersama militer-militernya, Beliau di siksa terus-menerus oleh mereka untuk mendapatkan informasi tentang organisasi antara bangsa Ikhwanul Muslimin dan peranannya di Afghanistan. Namun, beliau tidak mau mengatakannya. Sampai-samapai akibat siksaan tersebut Beliau meninggal dunia.
                                                                                                        




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Hidup adalah perjuangan yang tiada henti. Setiap kader seyogyanya menanamkan prinsip ini. Bias kita bayangkan jika hidup yang kita jalani ini tanpa dibumbuhi perjuangan. Pastinya akan tercipta hidup yang statis,yang hanya berjalan di tempat tidak dinamis dan pragmatis.
            Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besardari kita saat ini hidup dalam keadaan yang tidak hidup. Artinya, kehidupan yang dijalaninya adalah tanpa tujuan, buta visi dan lumpuh misi. Akibatnya, kehidupan berjalan seperti keong, lambat dan malas, hedonitas merajarela, pengangguran membludak, kriminalitas meningkat, dsb.
            Anggapan bahwa kehidupan itu seperti air, maka biarkanlah air itu mengalir begitu saja menjadi landasan tersendiri bagi mereka yang menginginkan kehidupannya itu berjalan begitu saja. Tanpa harus diprogramkan, tanpa haru dipetakan.
            Akan tetapi, fakta dilapangan membuktikan bahwa antara seseorang yang memiliki visi yang jelas dalam kehidupannya atau dengan kata lain telah mampu membuat peta hidupnya memiliki masa depan yang jauh lebih cerah bila dibandingkan dengan orang yang tidak mampu membuat peta hidupnya.
B.     Rumusan Masalah
a.       Pengertian peta hidup?
b.      Tujuan membangun peta hidup?
c.       Cara membangun peta hidup?
d.      Cara membangun peta hidup dalam perspektif Islam?
e.       Modal utama dalam membangun peta hidup?
f.       Musuh kesuksesan dalam membangun peta hidup?
g.      Cara mewujudkan target hidup?

BAB II
ISI

a.      Pengertian Peta Hidup
            Peta hidup atau sering disebut dengan istilah Life Mapping ini merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan. Peta hidup akan memberikan kesan yang mendalam, memberikan kejelasan arah kehidupan, sehingga menghasilkan visi dan misi hidup yang membuat kehidupan manusia lebih dinamis.
            Peta hidup akan memudahkan kita mengenali siapa diri kita sesungguhnya. Dale Carnegie mengingatkan betapa spesialnya diri kita. Tiap-tiap kita adalah sesuatu yang sama sekali baru di muka bumi ini. Tidak ada seorangpun yang pernah ada dan yang aka nada persis seperti kita. Kita ini adalah produk dari keturunan, lingkungan dan masa lalu. Betapa banyak anugrah yang diberikan Allah kepada kita. Kita adalah makhluk dengan nilai tak terhingga dan tidak bias dihargai dengan uang.
            Oleh karena itu, dalam kehidupan yang sangat singkat ini, sangat dapat dipastikan, setiap orang dari kita tak ingin dikatakan menyia-nyiakan kehidupannya. Walaupun bukti konkretnya banyak mengarah pada hal tersebut.
b.      Tujuan Membangun Peta Hidup
            Tujuan life mapping adalah mencegah kita bertindak tergesa-gesa dan tak beraturan. Tapi, terkadang rencana kita dapat berubah seiring perjalanan kita karena situasi tertentu. Hidup sperti layaknya jalan, ada belokan, putaran, tanjakan, dan lubang. Kita harus mampu mengantisipasi hal-hal tersebut, dan kita juga harus bisa menyesuaikan keadaan ketika ada perubahan jalur.
            Membangun peta hidup, pastinya membawa beberapa manfaat yang sangat berpengaruh dalam melejitkan potensi. Menurut Solikhin Abu Izzudin dalam bukunya Zero to Hero mengemukakan beberapa manfaat dari membangun peta hidup, antara lain:
1.    Menjadi modal dasar sebelum melangkah.
2.    Memiliki kejelasan apa yang harus dilakukan.
3.    Mapping adalah analisis kegagalan yang dituliskan.
4.    Agar memiliki skala prioritas dalam melangkah.
5.    Agar selalu mendayagunakan potensinya tersebut untuk prestasi sebanyak-banyaknya.
6.    Mapping sangat penting untuk mendasyatkan diri.
7.    Mapping akan berguna untuk mengoreksi kesalah diri.
c.       Cara Membangun Peta Hidup
            Banyak cara dalam membangun peta hidup, namun sebelum kita membangun peta hidup lita harus terlebih dahulu mengenali tujuan hidup kita. Mengenali diri sendiri adalah hal yang wajib kita lakukan. Semakin dalam kita mengetahui kelebihan dan kekurangan kita serta peluang makan semakin mudah kita membangun peta hidup kita. Karena logika saja, jika kita benar-benar mengenal seseorang, maka otomatis kita paham apa yang dia sukai, apa yang dia senangi dan apa yang dia butuhkan. Begitu juga dengan diri kita.
            Salah satu tips sederhana tapi berdampak yang mudah dilakukan adalah membuat suatu target yang akan kita capai dalam sebuah kertas setalah itu tempelkan di dinding kamar kita. Usahakan titik lokasi kita menempel adalah titik pertama yang kita lihat setelah kita tersadar dalam tidur kita. Pastikan hal yang pertama kita lihat setelah terbangun dari tidur adalah sebuah kertas tersebut. Menurut riset di bidang psikologi, hal ini dapat memberikan aura positif kepada diri kita untuk bersemangat meraihnya pada hari itu. Jika ini dilakukan secara konsisten, maka hari-hari kita merupakan hari-hari pencicilan dalam hal pencapaian mimpi-mimpi kita.
Berikut beberapa cara dalam memvisualkan impian:
1.    Meraih kepantasan diri
2.    Bersahabat dengan orang-orang hebat
3.    Syukuri kemenangan-kemenangan kecil
4.    Lakukan evaluasi pencapaian mimpi secara berkala
d.      Membangun Peta Hidup Dalam Perspektif Islam
            Dalam membangun peta hidup, tentunya secara tidak langsung akan menyertakan cita-cita, imajinasi, dan visi. Cita-cita adalah merupakan salah satu titik tolak menuju kesuksesan seseorang.
Dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 11, Allah SWT. Berfirmanyang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S. Ar-Ra’d : 11).
            Ayat di atas mengindikasikan perintah kepada hamba Allah untuk senantiasa bergerak dan menciptakan perubahan dalam kehidupannya. Melalui ayat ini, Allah memerintahkan kita agar merancang masa depan. Sekarang, pikirkanlah dengan baik rencana Anda ke depan. Pikirkanlah apa target 6 bulan, 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun untuk masing-masing dimensi hidup anda. Jadi bukan menjadi apa (presiden, menteri, direktur) yang paling penting, tapi lebih penting adalah apa yang anda hasilkan lewat peran yang anda jalani. Jabatan atau posisi merupakan instrument bagi prestasi dan pengabdian anda.
            Impian, rencana, visi tetap akan menjadi rumusan hampa tanpa adanya kesungguhan dalam melaksanakannya. Namun, cita-cita pribadi kita hendaknya bukan hanya untuk kita sendiri tapi hendaknya memberikan maslahat kepada ummat.
            Tentunya kita tidak hanya ingin memiliki cita-cita dunia karena cita-cita akhirat pun tak kalah pentingnya. Seperti ungkapan yang sering kita dengar yaitu: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”.
            Kita semua akan mati, seperti halnya Firman Allah yang artinya “Semua makhluk pasti akan merasakan yang namanya mati”. Karenanya yang terpenting bukan mengapa kita mati, dengan cara dan kapan kita mati. Tetapi, bagaimana cara kita menghadapi kematian dan mempersiapkan diri. Karena rasa mati itu sama, hanya sebab matilah yang beragam, sehingga nilainya berbeda. Ada yang syahid karena ta’at dan sebaliknya ada yang tersiksa karena gosong dalam maksiat. Ada yang mulia karena takwa, dan banyak yang hina karena angkara. Lagi-lagi hidup ini adalah pilihan, dua jalan yang diberikan Allah SWT. Ingin syurga atau neraka.
            Bagi orang yang beriman, membangun peta hidup sangat penting. Cita-citanya yang mulia tidak akan dengan mudahnya tergoyahkan dan tergantikan oleh sesuatu yang hida dan rendah. Allah tujuan hidupnya, Rasulullah teladannya, Al-Qur’an pedomannya, jihad jalan hidupnya, dan mati syahid di jalan Allah cita-cita tertingginya.
            Lain pribadi lain pula cita-citanya. Lain visi misi dan yang pasti lain pula cara membangun peta hidupnya. Berikut adalah cara-cara orang besar memetakan hidupnya hingga dapat meraih kesuksesan.
Mapping ala Rasulullah dan Sahabat
            Metode pemetaan hidup pernah dilakukan Nabi saat beliau menjelaskan tentang ajal manusia. Dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Bukhori dan Ibnu Mas’ud ia berkata, Rasulullah membuat gambar segi empat. Di tengah-tengahnya ada garis lurus yang memanjang hingga keluar kotak. Di samping garis tengah ada garis-garis kecil. Lalu Nabi menerangkan, “Ini manusia, dan garis persegi itu adalah kurungan ajalnya, sedangkan garis panjang yang keluar batas itu adalah angan dan cita-cita manusia. Garis-garis kecil itu adalah gangguan-gangguan yang selalu menghinggapi manusia. Maka bila ia selamat dari yang pertama, mungkin akan terkena yang kedua, jika terhindar dari yang satu terkena yang lain”. (HR. Bukhori).
            Memetakan hidup seperti hanya memetakan kondisi diri, positif maupun negative dengan sejujur-jujurnya akan berguna sebagai pengingat visual, sebagai peta untuk belajar, mengorganisasikan ide-idenya, membangkitkan ide-ide orisinil, memicu ingatan dengan mudah dan berguna untuk merencanakan. Cara ini lebih menenangkan, menyenangkan dan kreatif, karena mengaktifkan keseluruhan otak anda.
e.       Modal Utama Dalam Membangun Peta Hidup
            Ada 3 modal utama dalam membangun peta hidup, dan sebenarnya ketiga modal ini telah ada pada diri mita semua. Modal tersebut yaitu:
1.        Akal (fikriyah)
Telah kita ketahui bersama, bahwa surah pertama yang turun adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5 dan surah tersebut berhubungan juga dengan wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
       Di dalam surah tersebut kita dapat mengambil hikmahnya, bahwa sebenarnya kita ummat Islam di anjurkan untuk membaca, membaca dan membaca. Sebab dengan membaca dapat menambah pengetahuan kita, baik pengetahuan umum maupun agama. Seperti yang kita ketahui bahwa asupan otak itu salah satunya itu adalah dengan membaca.
2.        Hati (Ruhiyah)
            Selain kita memperbaiki akal (fikriyah), kita dianjurkan untuk meningkatkan Ruhiyah kita, yaitu dengan cara memperbaiki amalan yaumiyah kita. Karena dengan Fikriyah yang mantap dan Ruhiyah yang kuat, maka kita dapat membangun peta hidup dengan matang.
3.        Fisik (Jasadiyah)
            Seyogyanya bukan hanya fikriyah dan ruhiyah saya yang kita perbaiki dalam membangun peta hidup, namun tak lengkap jika jasadiyah kita melemah. Oleh karena itu, di samping kita memperbaiki fikriyah dan ruhiyah, kita harus juga memperbaiki jasadiyah kita. Memperbaiki jasadiya itu terdiri dari 3 aspek:
-            Makanan, tanamkannlah prinsip bahwa “biar enak, tapi tetap berkualitas”. Jadi, usahakan asupan makan kita itu harus berkualitas dalam hal vitamin dan gizi yang terkandung di dalamnya.
-            Olahraga, seperti yang terdapat dalam pribahasa “di dalam jiwa yang sehat terdapat fikiran yang waras”. Setiap muslim seharusnya memiliki kebiasaan berolahraga, minimal memiliki 1 bidang olahraga yang disukai. Karena Rasul juga pernah mengatakan bahwa “Aku lebih suka dengan Muslim yang kuat ketimbang Muslim yang lemah”.
-            Istirahat, dalam istirahat Rasul pernah mengajarkan kepada kita bahwa Allah memperbolehkan kita istirahan pada waktu menjelang dzuhur dan sesudah dzuhur, namun janganlah engkau istirahat pada waktu sesudah subuh, waktu dhuhah, setelah ashar dan setekah maghrib. Jadi, jelas bahwa waktu-waktu inilah yang diperbolehkan untuk istirahat.

f.       Musuh Kesuksesan Dalam Membangun Peta Hidup
            Ternyata di dalam meraih kesuksesan ada musuh-musuh yang harus kita lawan, seperti halnya hadits Rasul di atas. Ada 4 musuh kesuksesan, yaitu:
-          Alasan, usahakan jika kita tidak bisa melakukan suatu poekerjaan, jangan terlalu banyak alasan. Sebab dengan alasan yang sebegitu banyak maka akan membuat kemalasan bagi diri kita.
-          Takut gagal, ada satu kata-kata motivasi, yaitu: “orang yang sukses itu adalah orang yang berani gagal”. Orang yang tak pernah gagal, berarti dia tidak ingin sukses. Jadi, sebagai manusia kita tidak harus takut untuk gagal, karena dengan adanya rasa takut yang menyelimuti, maka akan menyebabkan kita tidak berani melangkah ke depan dan kita akan tetap statis.
-          Lemah dan Malas, sifat lemah dan malas ini sudah pasti ada pada setiap manusia. Untuk melawan kelemahan dan kemalasan yaitu di paksa agar tidak malas, dan kemudian kita harus banyak membaca buku-buku motivasi agar kita termotivasi untuk berubah.
-          Lingkungan negatif, ternyata menurut penelitian lingkungan juga dapat berpengaruh pada kesuksesan kita. Lingkungan yang malas dapat mempengaruhi diri kita untuk malas dan sebaliknya lingkungan yang rajin dapat mempengaruhi diri kita untuk rajin bekerja.
g.      Cara Mewujudkan Target Hidup
Ada beberapa cara mewujudkan target hidup, yaitu:
-          Tekat, tekat itu terletak di dalam hati kita, dengan tekat yang kuat kita dapat lebih bersemangat dalam menata hidup kita menjadi lebih baik.
-          Disiplin action, dengan tekat yang kuat belum dapat membuat suatu target hidup yang baik. Harus dibarengi juga dengan disiplin action, karena tak akan tercapai target-target kita jika tidak ada action dari kita. Jadi seyogyanya kita harus memiliki action dalam hal menata hidup kita.
-          Komitmen, adalah suatu peneguhan yang harus tertanam dalam hati kita dan kita harus istiqomah dalam mewujudkan cita-cita kita.

BAB III
KESIMPULAN

            Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, sudah seyogyanya kita sebagai kader memiliki konsep hidup yang jelas, mau kemana kita melangkah dan mau dibawa kemana soft skill yang ada pada diri kita. Sukses itu adalah perjalanan, bukan cita-cita yang harus dicapai. Kita harus memiliki target-target ke depan, dan ingatlah kita jangan sepele dengan target yang kecil dan jangan pesimis dengan target kita yang besar.
            Islam juga mengajarkan kita untuk memiliki tujuan yang jelas dalam kehidupan. Bagi orang yang beriman, membangun peta hidup sangatlah penting. Cita-citanya yang mulia tidak akan dengan mudahnya tergoyahkan dan tergantikan oleh sesuatu yang hina dan rendah. Allah tujuan hidupnya, Rasulullah teladannya, Al-Qur’an pedomannya, jihad jalan hidupnya, mati syahid di jalan Allah cita-cita tertingginya.